Memori Indah Air Langit
Langit tampak mendung,
gejala alam yang biasanya menjadi pertanda akan segera turun hujan, walau menurut Kang
Ebiet G. Ade belum tentu begitu.
Langit memang sedang
mendung saat saya mencoba mengaksarakan isi memori yang tengah saya dapatkan
melalui tulisan iseng ini ditemani sebuah lagu yang menginspirasi saya untuk
membuat judul yang sama.
Teringat saat masa
kanak-kanak dulu, hujan adalah salah satu hal yang paling saya tunggu selain
bagi-bagi duit pas lebaranan dan beli pernak-pernik pas kenaikan kelas di
sekolahan. Ada rasa bahagia campur senang tambah perasaan saat lagi ngunyah
cokelat mahal yang tinggal sepotong dan
punya mainan action figure film
anak-anak yang lagi “in” di masa
tersebut, itu adalah sebuah euforia yang hanya dapat dirasakan saat usia masih
sehijau daun seledri yang belum direbus bersama sup ayam saat melihat
butiran-butiran air itu mulai turun membasahi bumi, tak terungkapkan dengan
sempurna jika hanya melalui tulisan.
Biasanya saya akan berlarian
bertelanjang kaki melalui pintu belakang, meliburkan sandal jepit kesayangan
dan membiarkan tetesan air dingin dari langit itu menerpa tubuh dan menikmati
kaki berlapis tanah yang becek, tetap berlarian tanpa menghiraukan. Bersama
teman-teman sebaya berkejaran hingga dinginnya air hujan itu tak terasa walau
turun dengan curah yang semakin lama semakin deras.
Berlarian riang di atas
genangan air di lapangan yang ditumbuhi rumput liar setinggi pergelangan kaki,
semakin becek dia maka akan semakin seru. Semua terasa lepas, semua terasa
bebas, seperti baru dibebaskan dari lapas
Alcatraz. Jatuh bergulingan karena kehilangan keseimbangan karena rumput yang
licin di lapangan sering membuat kaki lecet namun kami tak peduli, selama kaki
masih bisa diajak kompromi maka permainan saling kejar dan meluncur bebas di
lapangan akan tetap dilanjuti.
Berdiri di bawah
saluran pembuangan air hujan dari atap rumah tak kalah mengasyikkan juga,
membiarkan air yang mengucur lebih deras menimbulkan sensasi pijat alami di
punggung, tak peduli bahwa konon air hujan dari saluran itu telah bercampur
dengan urine roden atau feses bangsa felix
yang sering “bermalam” di atap rumah.
Yang ada di pikiran
hanya satu, hujan
tak turun setiap hari, tak ada taman hiburan sebangsa Lala Land atau Disney Land
sekalipun yang menyuguhkan hujan, hujan ini tak dapat dibeli dengan uang atau
batu berharga manapun dan pada dasarnya…saya senang bermain hujan.
Maka melewatkannya akan terasa seperti seorang
fanatik sepak bola yang melewatkan pertandingan langsung final piala dunia.
Penyesalan itu akan terbawa hingga 4 tahun ke depan
(atau setidaknya untuk ukuran seorang fanatik air hujan harus menunggu hingga 4
hari, 4 minggu, atau bahkan 4 bulan yang tak menentu menunggu hujan deras yang
sama seperti hari itu).
Waktu kecil dulu, saya pernah
bertanya-tanya “Darimana
datangnya hujan ini?”
Dan seperti masa kanak-kanak pada umumnya,
akan tampil seorang anak cendekiawan nan
sok tahu yang penuh dengan pengetahuan magis
mengatakan “Ada orang yang meninggal, makanya turun hujan”, belakangan saya
tahu bahwa itu adalah kepercayaan turun-temurun yang akhirnya sampai ke telinga
anak itu dan demi sebuah predikat “Si Pandai
Nan Serba Tahu Segalanya” dengan percaya
dirinya memberitahukannya pada kami.
Lumayan masuk akal juga sebenarnya, pertanda
bahwa alam juga sedang berduka atas siapa pun dia yang berpulang hari itu.
Jadi dengan analogi yang sama, setiap
ada seseorang yang wafat, maka hujan akan turun
1 jam, 2 orang 2 jam, 3 orang 3 jam, dan pada
akhirnya semua orang akan butuh insang jika yang meninggal
sampai 100 orang dalam sehari.
Sayangnya waktu itu saya belum
berpikir untuk membuat cerita baru yang mungkin dapat diteruskan juga secara
turun-temurun, saat ada yang
bertanya darimana datangnya hujan maka saya akan menjawab “Ada orang yang gajinya tidak dibayarkan selama 3 bulan berturut-turut,
makanya turun hujan”. Di bagian ini mungkin orang akan mengenyampingkan alasan
logis, yang penting ada unsur sebab-akibat di benak mereka yang telah terjawab.
Hujan yang mereda
mengisyaratkan bahwa kami harus segera pulang, berjalan beriringan kembali
kerumah masing-masing sembari menyanyikan lagu-lagu yang liriknya tak padu
dengan suara-suara cempreng bak
ayam yang dijagal dengan paksa, sementara baju
telah penuh dengan noda becek hasil dari meluncur kesana-kemari di lapangan
tadi.
Biasanya di bagian ini
adalah klimaks dari petualangan bersama para fanatik hujan itu, mencari cara agar
bisa pulang ke rumah tanpa ketahuan baru
saja bermain hujan. Bak spionase-spionase
dalam film lawak, yang masuk rumah mengendap-endap lewat gudang lalu membiarkan
baju kotor yang basah berserakan di depan pintu kamar mandi.
Endingnya biasanya
sudah jelas, akan ada suara tangisan anak-anak tak berdosa yang dicubiti oleh
ibu-ibu mereka dari tiap-tiap rumah.
Namun bagai tak jera
walau dengan badan yang merah-merah terkena cubitan, jika sang hujan datang
lagi esok hari maka anak-anak bengal ini akan berjingkrakan turun ke jalan
seakan tengah mengikuti pawai topeng monyet keliling, kembali berlari riang
menikmati basahnya guyuran. Demi sambal
botol, saya rindu masa-masa itu.
Ada saat-saat tertentu,
dimana saya hanya duduk diam disana menatap sang hujan yang turun dari
pinggiran rumah. Membatin dengan imajinasi teraneh tentang hujan yang akan
sangat keren sekali jika turun dengan warna-warni yang berbeda di tiap
tetesnya, saya ingin menampungnya dengan kaleng biskuit bekas yang berbeda-beda
untuk tiap tetesnya yang berwarna lembayung, magenta, dan jingga muda, yang saya bahkan tak
paham apa arti dari warna-warna tersebut, kemudian menjualnya ke E-Bay demi
membeli selempeng Ipod Nano 2 GB yang
telah lama saya idamkan atau berjoget penuh semangat cinta membara dalam dada ala
film-film Asia Selatan dengan slow motion
menerobos colourful rain itu sambil
meneriakkan nama orang yang saya sukai diiringi tabuhan gendang yang dibuat
dari kulit kambing gunung. Sangat Bolly.
Kini saya kembali di
sini, di usia dimana euforia tentang air hujan itu mulai terkikis sedikit demi
sedikit, bermacam pemikiran yang kita
sebut “pendewasaan”. Tak lagi sepraktis saat masa
kanak-kanak dulu, ia
menggerogoti semua kesenangan itu sedikit demi sedikit.
Seringkali mengeluh
jika ada keperluan atau janji yang menjadi tertunda bahkan batal sebab hujan
itu. Membayangkan jika saat ini saya melakukan hal yang sama seperti dulu, maka
seperti dalam ajang pencarian bakat bernyanyi dangdut, kemungkinan
poling SMS saya akan turun drastis sekitar 80%.
Belum lagi jika terkena
flu berat, demam, bronkhitis, lepra, cacar air, bahkan hydrocephalus. Sungguh kumpulan
horor yang tak dapat saya bayangkan akan menimpa saya jika benar-benar
melakukannya.
Kaca-kaca jendela kamar
saya sekarang telah dipenuhi dengan
molekul-molekul H2O itu, saya menyeka
beberapa tetesnya. Saat membuka
jendela terlihat sang hujan turun dengan derasnya disertai dengan petrichor yang khas berseliweran
di depan hidung.
Tampak air langit di luar sana telah
banyak menggenang, seakan bertaruh
bisa mengajak saya untuk mau mengulang lagi saat kanak-kanak itu dan ia yakin
bisa menang.
Saya menggeleng pelan.
Tak berlama-lama saya
menggulung celana panjang ke atas, mengikat slayer di lutut kanan lalu kemudian
membuka pintu belakang.
“Oh well, here I come, rain!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar