Entri Populer

Jumat, 24 Desember 2010

Rey G’s : My First English

Rey G’s : My First English

Saya pas di SD merupakan salah satu dari kelompok SWAET Mania (Students Who Avoid English Totally), saya gak suka pelajaran ini (Level: Mania), karena saya gak pernah bisa mengerti semua tensis-tensis yang ribet banget dalam bahasa itu dan buat saya sulit banget mengucapkan sesuatu dalam Bahasa Inggris tanpa membuat lidah saya cedera sehingga tidak bisa merasakan rasa manis dan asin secara bersamaan lagi setelahnya, yaitu pas abis makan manisan kedondong yang top banget di SD waktu itu.

Setiap guru Bahasa Inggris masuk kelas, buat saya waktu itu menjadi jam yang tepat buat menggambar komik-komik ngawur bin dudul sementara beberapa anggota SWAET lainnya dengan bahasa Planet Chihuahua kadang-kadang membentuk H.A.N.T.U. M.A.L.A.M. (Himpunan Antar Narasumber Tentang Urusan Makhluk Alus Atau Lainnya Asalkan Menyeramkan).

Namun semua hal itu berubah 180° begitu saya masuk kelas 1 SMP, dimana saat itu saya untuk pertama kalinya punya mesin next gen di zaman itu. Semua perasaan gak senang dan malas pelan-pelan berubah menjadi high level curiosity, sebab saya mau gak mau harus buka kamus setiap ada kata-kata yang saya gak tahu artinya dalam permainan tertentu. Karena hal ini berlangsung lama, gak terasa vocabulary saya pun semakin bertambah banyak dan pada banyak permainan, dengan mengandalkan hal itu saya udah bisa tamatin gamenya tanpa beli walkthrough lagi.

Benar-benar ada rasa puas dan happy, walau game-game yang bisa ditamatin dengan bermodalkan vocabulary itu cuma game-game sebangsa Pacman 3D, Harvest Moon, atau Crash Bandicoot, tapi tetap saja itu bisa menjadi prestasi yang membanggakan (sayangnya hal ini tidak dimasukkan dalam rapor sekolahan, kalo gak, mungkin saat itu saya udah Ranking 1,hehehe).

Saya gak ingat jelas lagi tapi mungkin saat itu pula saya akhirnya memutuskan untuk mundur dari SWAET dan bergabung dengan STARS (Special Tactics And Rescue Services??). selanjutnya saya mendapat vocabulary saya dari banyak tempat, musik, film, dan juga komputer.

Di SMP-SMA barulah terasa banget kalo menguasai hal ini bisa mempermudah dalam beberapa hal, selain karena ini saya jadi tempat buat nyontek PR, atau ditanyain arti ini itu kalo The Tokicers pada malas buka kamus.

Tokichi : “Eh artinya ini apa?”

Saya : “Oh artinya begini…wasweswos”

Dan dalam lima menit yang datang bertanya akan bertambah jumlahnya.

Tokicers : “Kalo yang ini bagaimana?”

Saya : “Oh itu…wasweswos”

2 menit kemudian jumlah yang datang menjadi lebih banyak sehingga menciptakan Tokicers Horde.

Tokicererers Horde Lv.5 : “Artinya What is That dulu kasih tau saya, Re? (suara 1), kalo pake tensis yang ini bisa tidak? (suara 2) saya liat dulu contohnya kau punya fren (suara 3 yang pingin minta contekan dengan halus), Saya Nyontek dulu kau punya weeyy,gak lama-gak lama!!! (suara 4 yang cempreng abis pingin minta contekan dengan cara barbar), Weey semuanya…Britney Spears minta cerai dari K-Fed lho!!Uwhha help me..oh no, not my beautiful mind..nooo!!! (suara siapa sih ini?)

Saya : “Sabar saudara-saudara…sabar…apa itu What is that? sedangkan I don’t know saya tidak tahu, apalagi Oh My God! Ya Tuhan!!” (temper has reach critical level...temper has reach critical level!!).

Seingat saya hal inilah yang seringkali membuat saya lambat ngumpulis tugas daripada orang-orang yang saya bantu, tapi ada rasa senang juga saya bisa membantu teman-teman saya di kelas itu. Lain dari itu Bahasa Inggris menjadi salah satu mata pelajaran yang diujiankan secara nasional dan itu benar-benar sangat membantu saya, berhubung saat itu gak ada ujian ulang buat yang gak lulus.

Saya sendiri gak percaya pada akhirnya bisa menembus angka 9 lebih dalam ujian itu, karena pas ujian Bahasa Inggris di hari terakhir ujian nasional benar-benar menjadi amat menegangkan.

Lembar pertama dibuka, “Ahhh ini sih gampang”. dengan cekatan mulai menghitamkan lembar jawaban pake pinsil 2B.

Lembar kedua dibuka “Ohh yang ini sih…”. mulai mengerjakan pelan-pelan dan melompati soal-soal tensis yang dirasa susah.

Lembar ketiga dibuka “Hmm…waduh rek, opo seh iki?” celingukan sambil garuk-garuk kepala, mulai mengerjakan lebih pelan sambil komat-kamit kayak baca mantra sihirnya Mimi Hitam.

Lembar keempat dibuka “Astagfirullahalazim…Audzubillahiminasyaitonirrozim!!!” mulai merem dan mendoakan si pembuat soal agar selalu diampuni dosa-dosanya yang lalu, sekarang, maupun akan datang karena telah membuat soal “Pembunuh Kelulusan” ini.

Lembar kelima dibuka, “....” totally blank, melongo sambil nempelin pinsil ke jidat, mulai muncul flashback saat saya baru belajar naik sepatu roda dan mulai bersenandung lagu-lagu perjuangan dalam hati sambil berharap mimpi buruk ini cepat berakhir, waktu itu pengawas kayaknya ngeliatin dan menyadari bahwa ada murid yang terkena gejala awal epilepsi.

Begitu selesai dan udah ngumpulin lembar jawaban pengen segera sujud syukur tapi gak jadi berhubung ngeliat lantai kelas yang debunya bajhbazzyet (baca: bujubuset) tebalnya.

Tapi seperti yang saya bilang sebelumnya, bahwa saya gak percaya bisa dapat 9 lebih dalam ujian itu setelah ijazah dibagikan, benar-benar melegakan. Hehehehe…

Bagaimanapun saya benar-benar berterima kasih dan bersyukur sangat kepada Allah yang telah memberikan nikmat pengetahuan ini ke saya.

Restart Ma Bloggy

Saya ingat pernah membuat satu blog sebelum ini tapi saya bahkan lupa apa nama blog itu, well...saatnya membuat blog baru, and this is my chapter new beginning...^^V