Entri Populer

Jumat, 03 Februari 2012

Memori Indah Air Langit


Memori Indah Air Langit


Langit tampak mendung, gejala alam yang biasanya menjadi pertanda akan segera turun hujan, walau menurut Kang Ebiet G. Ade belum tentu begitu. Langit memang sedang mendung saat saya mencoba mengaksarakan isi memori yang tengah saya dapatkan melalui tulisan iseng ini ditemani sebuah lagu yang menginspirasi saya untuk membuat judul yang sama.

Teringat saat masa kanak-kanak dulu, hujan adalah salah satu hal yang paling saya tunggu selain bagi-bagi duit pas lebaranan dan beli pernak-pernik pas kenaikan kelas di sekolahan. Ada rasa bahagia campur senang tambah perasaan saat lagi ngunyah cokelat mahal yang tinggal sepotong  dan punya mainan action figure film anak-anak yang lagi “in” di masa tersebut, itu adalah sebuah euforia yang hanya dapat dirasakan saat usia masih sehijau daun seledri yang belum direbus bersama sup ayam saat melihat butiran-butiran air itu mulai turun membasahi bumi, tak terungkapkan dengan sempurna jika hanya melalui tulisan.

Biasanya saya akan berlarian bertelanjang kaki melalui pintu belakang, meliburkan sandal jepit kesayangan dan membiarkan tetesan air dingin dari langit itu menerpa tubuh dan menikmati kaki berlapis tanah yang becek, tetap berlarian tanpa menghiraukan. Bersama teman-teman sebaya berkejaran hingga dinginnya air hujan itu tak terasa walau turun dengan curah yang semakin lama semakin deras.

Berlarian riang di atas genangan air di lapangan yang ditumbuhi rumput liar setinggi pergelangan kaki, semakin becek dia maka akan semakin seru. Semua terasa lepas, semua terasa bebas, seperti baru dibebaskan dari lapas Alcatraz. Jatuh bergulingan karena kehilangan keseimbangan karena rumput yang licin di lapangan sering membuat kaki lecet namun kami tak peduli, selama kaki masih bisa diajak kompromi maka permainan saling kejar dan meluncur bebas di lapangan akan tetap dilanjuti.

Berdiri di bawah saluran pembuangan air hujan dari atap rumah tak kalah mengasyikkan juga, membiarkan air yang mengucur lebih deras menimbulkan sensasi pijat alami di punggung, tak peduli bahwa konon air hujan dari saluran itu telah bercampur dengan urine roden atau feses bangsa felix yang sering “bermalam” di atap rumah.

Yang ada di pikiran hanya satu, hujan tak turun setiap hari, tak ada taman hiburan sebangsa Lala Land atau Disney Land sekalipun yang menyuguhkan hujan, hujan ini tak dapat dibeli dengan uang atau batu berharga manapun dan pada dasarnya…saya senang bermain hujan.
Maka melewatkannya akan terasa seperti seorang fanatik sepak bola yang melewatkan pertandingan langsung final piala dunia.
Penyesalan itu akan terbawa hingga 4 tahun ke depan (atau setidaknya untuk ukuran seorang fanatik air hujan harus menunggu hingga 4 hari, 4 minggu, atau bahkan 4 bulan yang tak menentu menunggu hujan deras yang sama seperti hari itu).

Waktu kecil dulu, saya pernah bertanya-tanya “Darimana datangnya hujan ini?”
 Dan seperti masa kanak-kanak pada umumnya, akan tampil seorang anak cendekiawan nan sok tahu yang penuh dengan pengetahuan magis mengatakan “Ada orang yang meninggal, makanya turun hujan”, belakangan saya tahu bahwa itu adalah kepercayaan turun-temurun yang akhirnya sampai ke telinga anak itu dan demi sebuah predikat “Si Pandai Nan Serba Tahu Segalanya” dengan percaya dirinya memberitahukannya pada kami.
 Lumayan masuk akal juga sebenarnya, pertanda bahwa alam juga sedang berduka atas siapa pun dia yang berpulang hari itu.
Jadi dengan analogi yang sama, setiap ada seseorang yang wafat, maka hujan akan turun 1 jam, 2 orang 2 jam, 3 orang 3 jam, dan pada akhirnya semua orang akan butuh insang jika yang meninggal sampai 100 orang dalam sehari.
Sayangnya waktu itu saya belum berpikir untuk membuat cerita baru yang mungkin dapat diteruskan juga secara turun-temurun, saat ada yang bertanya darimana datangnya hujan maka saya akan menjawab “Ada orang yang gajinya tidak dibayarkan selama 3 bulan berturut-turut, makanya turun hujan”. Di bagian ini mungkin orang akan mengenyampingkan alasan logis, yang penting ada unsur sebab-akibat di benak mereka yang telah terjawab.

Hujan yang mereda mengisyaratkan bahwa kami harus segera pulang, berjalan beriringan kembali kerumah masing-masing sembari menyanyikan lagu-lagu yang liriknya tak padu dengan suara-suara cempreng bak ayam yang dijagal dengan paksa, sementara baju telah penuh dengan noda becek hasil dari meluncur kesana-kemari di lapangan tadi.
Biasanya di bagian ini adalah klimaks dari petualangan bersama para fanatik hujan itu, mencari cara agar bisa pulang ke rumah tanpa ketahuan baru saja bermain hujan. Bak spionase-spionase dalam film lawak, yang masuk rumah mengendap-endap lewat gudang lalu membiarkan baju kotor yang basah berserakan di depan pintu kamar mandi.
Endingnya biasanya sudah jelas, akan ada suara tangisan anak-anak tak berdosa yang dicubiti oleh ibu-ibu mereka dari tiap-tiap rumah.
Namun bagai tak jera walau dengan badan yang merah-merah terkena cubitan, jika sang hujan datang lagi esok hari maka anak-anak bengal ini akan berjingkrakan turun ke jalan seakan tengah mengikuti pawai topeng monyet keliling, kembali berlari riang menikmati basahnya guyuran. Demi sambal botol, saya rindu masa-masa itu.

Ada saat-saat tertentu, dimana saya hanya duduk diam disana menatap sang hujan yang turun dari pinggiran rumah. Membatin dengan imajinasi teraneh tentang hujan yang akan sangat keren sekali jika turun dengan warna-warni yang berbeda di tiap tetesnya, saya ingin menampungnya dengan kaleng biskuit bekas yang berbeda-beda untuk tiap tetesnya yang berwarna lembayung, magenta, dan jingga muda, yang saya bahkan tak paham apa arti dari warna-warna tersebut, kemudian menjualnya ke E-Bay demi membeli selempeng Ipod Nano 2 GB yang telah lama saya idamkan atau berjoget penuh semangat cinta membara dalam dada ala film-film Asia Selatan dengan slow motion menerobos colourful rain itu sambil meneriakkan nama orang yang saya sukai diiringi tabuhan gendang yang dibuat dari kulit kambing gunung. Sangat Bolly. 

Kini saya kembali di sini, di usia dimana euforia tentang air hujan itu mulai terkikis sedikit demi sedikit, bermacam pemikiran yang kita sebut “pendewasaan”. Tak lagi sepraktis saat masa kanak-kanak dulu, ia menggerogoti semua kesenangan itu sedikit demi sedikit.
Seringkali mengeluh jika ada keperluan atau janji yang menjadi tertunda bahkan batal sebab hujan itu. Membayangkan jika saat ini saya melakukan hal yang sama seperti dulu, maka seperti dalam ajang pencarian bakat bernyanyi dangdut, kemungkinan poling SMS saya akan turun drastis sekitar 80%.
 Belum lagi jika terkena flu berat, demam, bronkhitis, lepra, cacar air, bahkan hydrocephalus. Sungguh kumpulan horor yang tak dapat saya bayangkan akan menimpa saya jika benar-benar melakukannya.

Kaca-kaca jendela kamar saya sekarang telah dipenuhi dengan molekul-molekul H2O itu, saya menyeka beberapa tetesnya. Saat membuka jendela terlihat sang hujan turun dengan derasnya disertai dengan petrichor yang khas berseliweran di depan hidung.
Tampak air langit di luar sana telah banyak menggenang, seakan bertaruh bisa mengajak saya untuk mau mengulang lagi saat kanak-kanak itu dan ia yakin bisa menang. Saya menggeleng pelan.
Tak berlama-lama saya menggulung celana panjang ke atas, mengikat slayer di lutut kanan lalu kemudian membuka pintu belakang.
Oh well, here I come, rain!”



  


Jumat, 24 Desember 2010

Rey G’s : My First English

Rey G’s : My First English

Saya pas di SD merupakan salah satu dari kelompok SWAET Mania (Students Who Avoid English Totally), saya gak suka pelajaran ini (Level: Mania), karena saya gak pernah bisa mengerti semua tensis-tensis yang ribet banget dalam bahasa itu dan buat saya sulit banget mengucapkan sesuatu dalam Bahasa Inggris tanpa membuat lidah saya cedera sehingga tidak bisa merasakan rasa manis dan asin secara bersamaan lagi setelahnya, yaitu pas abis makan manisan kedondong yang top banget di SD waktu itu.

Setiap guru Bahasa Inggris masuk kelas, buat saya waktu itu menjadi jam yang tepat buat menggambar komik-komik ngawur bin dudul sementara beberapa anggota SWAET lainnya dengan bahasa Planet Chihuahua kadang-kadang membentuk H.A.N.T.U. M.A.L.A.M. (Himpunan Antar Narasumber Tentang Urusan Makhluk Alus Atau Lainnya Asalkan Menyeramkan).

Namun semua hal itu berubah 180° begitu saya masuk kelas 1 SMP, dimana saat itu saya untuk pertama kalinya punya mesin next gen di zaman itu. Semua perasaan gak senang dan malas pelan-pelan berubah menjadi high level curiosity, sebab saya mau gak mau harus buka kamus setiap ada kata-kata yang saya gak tahu artinya dalam permainan tertentu. Karena hal ini berlangsung lama, gak terasa vocabulary saya pun semakin bertambah banyak dan pada banyak permainan, dengan mengandalkan hal itu saya udah bisa tamatin gamenya tanpa beli walkthrough lagi.

Benar-benar ada rasa puas dan happy, walau game-game yang bisa ditamatin dengan bermodalkan vocabulary itu cuma game-game sebangsa Pacman 3D, Harvest Moon, atau Crash Bandicoot, tapi tetap saja itu bisa menjadi prestasi yang membanggakan (sayangnya hal ini tidak dimasukkan dalam rapor sekolahan, kalo gak, mungkin saat itu saya udah Ranking 1,hehehe).

Saya gak ingat jelas lagi tapi mungkin saat itu pula saya akhirnya memutuskan untuk mundur dari SWAET dan bergabung dengan STARS (Special Tactics And Rescue Services??). selanjutnya saya mendapat vocabulary saya dari banyak tempat, musik, film, dan juga komputer.

Di SMP-SMA barulah terasa banget kalo menguasai hal ini bisa mempermudah dalam beberapa hal, selain karena ini saya jadi tempat buat nyontek PR, atau ditanyain arti ini itu kalo The Tokicers pada malas buka kamus.

Tokichi : “Eh artinya ini apa?”

Saya : “Oh artinya begini…wasweswos”

Dan dalam lima menit yang datang bertanya akan bertambah jumlahnya.

Tokicers : “Kalo yang ini bagaimana?”

Saya : “Oh itu…wasweswos”

2 menit kemudian jumlah yang datang menjadi lebih banyak sehingga menciptakan Tokicers Horde.

Tokicererers Horde Lv.5 : “Artinya What is That dulu kasih tau saya, Re? (suara 1), kalo pake tensis yang ini bisa tidak? (suara 2) saya liat dulu contohnya kau punya fren (suara 3 yang pingin minta contekan dengan halus), Saya Nyontek dulu kau punya weeyy,gak lama-gak lama!!! (suara 4 yang cempreng abis pingin minta contekan dengan cara barbar), Weey semuanya…Britney Spears minta cerai dari K-Fed lho!!Uwhha help me..oh no, not my beautiful mind..nooo!!! (suara siapa sih ini?)

Saya : “Sabar saudara-saudara…sabar…apa itu What is that? sedangkan I don’t know saya tidak tahu, apalagi Oh My God! Ya Tuhan!!” (temper has reach critical level...temper has reach critical level!!).

Seingat saya hal inilah yang seringkali membuat saya lambat ngumpulis tugas daripada orang-orang yang saya bantu, tapi ada rasa senang juga saya bisa membantu teman-teman saya di kelas itu. Lain dari itu Bahasa Inggris menjadi salah satu mata pelajaran yang diujiankan secara nasional dan itu benar-benar sangat membantu saya, berhubung saat itu gak ada ujian ulang buat yang gak lulus.

Saya sendiri gak percaya pada akhirnya bisa menembus angka 9 lebih dalam ujian itu, karena pas ujian Bahasa Inggris di hari terakhir ujian nasional benar-benar menjadi amat menegangkan.

Lembar pertama dibuka, “Ahhh ini sih gampang”. dengan cekatan mulai menghitamkan lembar jawaban pake pinsil 2B.

Lembar kedua dibuka “Ohh yang ini sih…”. mulai mengerjakan pelan-pelan dan melompati soal-soal tensis yang dirasa susah.

Lembar ketiga dibuka “Hmm…waduh rek, opo seh iki?” celingukan sambil garuk-garuk kepala, mulai mengerjakan lebih pelan sambil komat-kamit kayak baca mantra sihirnya Mimi Hitam.

Lembar keempat dibuka “Astagfirullahalazim…Audzubillahiminasyaitonirrozim!!!” mulai merem dan mendoakan si pembuat soal agar selalu diampuni dosa-dosanya yang lalu, sekarang, maupun akan datang karena telah membuat soal “Pembunuh Kelulusan” ini.

Lembar kelima dibuka, “....” totally blank, melongo sambil nempelin pinsil ke jidat, mulai muncul flashback saat saya baru belajar naik sepatu roda dan mulai bersenandung lagu-lagu perjuangan dalam hati sambil berharap mimpi buruk ini cepat berakhir, waktu itu pengawas kayaknya ngeliatin dan menyadari bahwa ada murid yang terkena gejala awal epilepsi.

Begitu selesai dan udah ngumpulin lembar jawaban pengen segera sujud syukur tapi gak jadi berhubung ngeliat lantai kelas yang debunya bajhbazzyet (baca: bujubuset) tebalnya.

Tapi seperti yang saya bilang sebelumnya, bahwa saya gak percaya bisa dapat 9 lebih dalam ujian itu setelah ijazah dibagikan, benar-benar melegakan. Hehehehe…

Bagaimanapun saya benar-benar berterima kasih dan bersyukur sangat kepada Allah yang telah memberikan nikmat pengetahuan ini ke saya.

Restart Ma Bloggy

Saya ingat pernah membuat satu blog sebelum ini tapi saya bahkan lupa apa nama blog itu, well...saatnya membuat blog baru, and this is my chapter new beginning...^^V